Friday, June 27, 2008

Demi Rakyat,Sekarang (Kami/)Mahasiswa (rela) Terdzalimi

Berita di media massa baik cetak maupun elektronik akhir-akhir ini sering memuat tentang aksi mahasiswa. Namun ironisnya semua ditulis dengan lebih menitikberatkan sisi anarkis tanpa meninjau sisi baik/niat baik mahasiswa, yakni tuntutan aksi-nya. Saya yakin tidak ada satupun mahasiswa yang berawal dari keinginan anarkis, tapi karena setelah berulang-ulang -diberbagai tempat- pemerintah diingatkan dengan cara damai tetap tidak ada reaksi positif, namun malah bersikap sinis maka para mahasiswapun mulai bosan dengan cara-cara lama yang tidak berhasil dan akhirnya memilih jalan “tegas” ( bukan kekerasan!) demi terwujudnya masyarakat yang adil dalam kemakmuran serta makmur dalam keadilan.

Berkali-kali mahasiswa yang peduli dengan rakyatnya turun kejalan, melakukan aksi damai tanpa menimbulkan kerusakan,hanya ingin pemerintah mencabut kebijakannya menaikkan harga BBM dengan menawarkan ide nasionalisasi aset. Namun berkali-kali pula pemerintah tidak mengurusinya. Hingga akhirnya mahasiswa mulai marah dengan pemerintah yang sudah dipilih langsung oleh mereka sendiri, mulai benci dengan orang yang mengkhianati tugas yang diberikan. mahasiswa benar-benar marah melihat segelintir (menurut beberapa sumber hanya 15 orang) orang mempermainkan nasib 40 juta orang miskin.  dengan gagah berani mereka bersumpah ” kami rela berkorban demi bangsa kami! “. turun kejalan dengan semangat membara menunjukkan keadaan mereka yang mulai muak dengan pemerintah, berjuang!, berjuang! dan berjuang!. Hingga akhirnya tempat mahasiswa menuntut ilmu di serang oleh para pembunuh (insiden UNAS), dan dalam beberapa saat gugur pahlawan dari mahasiswa bernama maftuh (hormat saya kepadanya), seorang mahasiswa telah rela mati demi bangsanya!. Namun apa yang dilakukan pemerintah???tetap diam dan malah menutupi kasus tersebut dengan isu HIV. sungguh ironis memang. Akhirnya mahasiswa tampil lebih tegas, jauh lebih tegas dari sebelumnya, dengan membakar mobil plat merah (karena kami tahu bahwa mobil itu milik penindas rakyat), menhancurkan kantor para penindas (baca kantor DPR). sasaran kami tepat, yaitu semua hal yang digunakan untuk menindas rakyat. Namun dengan gampangnya mereka membunuh karakter kami dengan memberitakannya  tak berimbang, lebih mengulas sisi anarkisnya tanpa mengulas lebih lanjut tentang tuntutan aksinya.

Sekarang, kami para mahasiswa merasa benar-benar terdzalimi oleh kekuasaan, dengan gampangnya mereka menindas rakyat, dengan gampangnya mereka membunuh saudara kami, dengan gampangnya mereka membunuh karakter kami. tak ingatkah mereka pada saat mereka mahasiswa dulu? ada yang dikenal menggulingkan soekarno di tahun 66, ada pula yang ikut menggerakkan reformasi.

aku tak tahu dimana semangat nasionalisme mereka sekarang. yang jelas……

KAMI MAHASISWA INDONESIA BERSUMPAH :

1. BERBAHASA SATU, BAHASA TANPA KEBOHONGAN!

2. BERBANGSA SATU, BANGSA YANG GANDRUNG AKAN KEADILAN!

3. BERTANAH AIR SATU, TANAH AIR TANPA PENINDASAN!!

HIDUP MAHASISWA!

HIDUP RAKYAT!

Posted by syafiq at 19:15:21
Comments

Leave a Reply