Sunday, June 29, 2008

Betapa Culunnya Mahasiswa Sekarang

    Aku mahasiswa biologi unsoed angkatan 2007, pas ospek aku dengerin pembicara yang kebetulan mantan presiden BEM FISIP unsoed tahun 1998 ( oh iya waktu itu pas jamannya reformasi ). dia bilang “mahasiswa sekarang itu culun-culun, n gak bisa di ajak diskusi”. sekilas aku gak percaya ma omongannya, karena dari kenyataannya panitia ospek yang ada cukup tahu tentang kondisi bangsa ini dan terlihat cukup mampu untuk berdiskusi. beberapa dari panitia ospek cukup mampu untuk mendiskusikan tentang marxisme,islamisme,nasionalisme,dll. dan kalo melihat dari sisi panitia kayaknya proposisi dari pembicara kurang tepat. Namun jika melihat dari sisi peserta hal itu ada benarnya, karena  memang banyak dari kami (peserta) yang tidak bisa diajak diskusi tentang hal-hal di atas (walaupun sebenarnya kecakapan seorang mahasiswa tidak hanya dinilai dari pengetahuannya tentang ideologi saja). masih banyak hal yang harus diketahui oleh mahasiswa yakni tentang gerakan, paradigma berpikir, serta intelektualitas keberpihakan. karena saat ini saya melihat ada sebuah fenomena pola pikir yang menurut saya tidak sepatutnya dimiliki oleh mahasiswa (mungkin lebih cocok anak SMA) yaitu tentang cara berpikir positifis pragmatis. Sungguh ironis sekali ketika generasi muda harapan bangsa mempunyai pemikiran demikian, sungguh tidak patut!
    ospek saat itu benar-benar aku hayati dan aku usahakan jangan sampai satu hal pun terlewatkan dari konsentrasi saya. beberapa hari setelah ospek aku mulai akrab dengan beberapa senior yang katanya aktif diorganisasi. dari mereka aku dapatkan banyak informasu tentang gerakan mahasiswa. ada yang gerakannya radikal, ada yang lebih menonjolkan image,dan ada juga yang alurnya gak jelas, setelah beberapa hari aku pikirkan akhirnya aku putuskan untuk terlibat dalam gerakan mahasiswa yang radikal dan progressif, yaitu HMI yang sebenarnya yang sering dikenal dengan sebutan HMI DIPO.  akupun mulai intens di dunia baruku ini dengan diselingi kegiatan jurnalistik yang aku ikuti lewat sebuah UKM jurnalistik tingkat universitas.
    setelah lewat  satu semester aku merasakan sesuatu yang berbeda dari diriku ketimbang rekan-rekanku yang lain. aku merasa asing jika berada di tengah kalanganku sendiri. mereka bilang kalo aku ini aktifis. tapi aku tidak merasakan itu. aku masih sama seperti mereka, seorang mahasiswa biologi yang kerjaannya kuliah-praktikum-dan laporan. semakin lama semakin aku merasakan perbedaannya. entah di sebelah mana. setelah berulang kali aku pikirkan aku menemukan perbedaannya. suatu tempat yang aku namai otak mungkin disitu letaknya. setelah aku rasakan betapa berbedanya aku dengan mereka. aku benar-benar mengerti kalo mereka tak berpikir seperti aku.
beberapa mahasiswa diunsoed yang seangkatanku (2007) tidak terlalu tanggap dengan kenyataan dan mempunyai pola pikir yang maaf terbelakang. ini terlihat ketika ada seorang mahasiswa yang berpikir bahwa ” aksi mahasiswa menentang kebijakan itu tidak ada gunanya dan tidak berimbas apa-apa “. coba kita tengok apa kata bapak tukang becak ” demo-demo itu gak ada gunanya mas”. apa yang terlihat janggal adalah pola pikir seorang mahasiswa sama dengan pola pikir seorang tukang becak. naudzubillahimin dzalik.
    kalo kenyataannya seperti itu, lalu apa gunanya mereka kuliah?jelas lebih tidak berguna!. bukankah esensi dari kuliah adalah pendewasaan diri?bukankah gak ada gunanya kalo kelakuan seorang sarjana sama seperti anak SMA?
dan akhirnya aku menyimpulkan bahwa asumsi dari mantan presiden BEM FISIP UNSOED tahun 1998 terbukti benar!.
aku tawarkan bagi pembaca yang tidak mau dibilang culun untuk segera berpikir, dan sarananya adalah ORGANISASI!.
kalo tetap tidak peduli dengan bangsa dan negara, aku bilang “dasar mahasiswa culun!”
Posted by syafiq at 18:08:19 | Permalink | Comments (2)

Friday, June 27, 2008

Demi Rakyat,Sekarang (Kami/)Mahasiswa (rela) Terdzalimi

Berita di media massa baik cetak maupun elektronik akhir-akhir ini sering memuat tentang aksi mahasiswa. Namun ironisnya semua ditulis dengan lebih menitikberatkan sisi anarkis tanpa meninjau sisi baik/niat baik mahasiswa, yakni tuntutan aksi-nya. Saya yakin tidak ada satupun mahasiswa yang berawal dari keinginan anarkis, tapi karena setelah berulang-ulang -diberbagai tempat- pemerintah diingatkan dengan cara damai tetap tidak ada reaksi positif, namun malah bersikap sinis maka para mahasiswapun mulai bosan dengan cara-cara lama yang tidak berhasil dan akhirnya memilih jalan “tegas” ( bukan kekerasan!) demi terwujudnya masyarakat yang adil dalam kemakmuran serta makmur dalam keadilan.

Berkali-kali mahasiswa yang peduli dengan rakyatnya turun kejalan, melakukan aksi damai tanpa menimbulkan kerusakan,hanya ingin pemerintah mencabut kebijakannya menaikkan harga BBM dengan menawarkan ide nasionalisasi aset. Namun berkali-kali pula pemerintah tidak mengurusinya. Hingga akhirnya mahasiswa mulai marah dengan pemerintah yang sudah dipilih langsung oleh mereka sendiri, mulai benci dengan orang yang mengkhianati tugas yang diberikan. mahasiswa benar-benar marah melihat segelintir (menurut beberapa sumber hanya 15 orang) orang mempermainkan nasib 40 juta orang miskin.  dengan gagah berani mereka bersumpah ” kami rela berkorban demi bangsa kami! “. turun kejalan dengan semangat membara menunjukkan keadaan mereka yang mulai muak dengan pemerintah, berjuang!, berjuang! dan berjuang!. Hingga akhirnya tempat mahasiswa menuntut ilmu di serang oleh para pembunuh (insiden UNAS), dan dalam beberapa saat gugur pahlawan dari mahasiswa bernama maftuh (hormat saya kepadanya), seorang mahasiswa telah rela mati demi bangsanya!. Namun apa yang dilakukan pemerintah???tetap diam dan malah menutupi kasus tersebut dengan isu HIV. sungguh ironis memang. Akhirnya mahasiswa tampil lebih tegas, jauh lebih tegas dari sebelumnya, dengan membakar mobil plat merah (karena kami tahu bahwa mobil itu milik penindas rakyat), menhancurkan kantor para penindas (baca kantor DPR). sasaran kami tepat, yaitu semua hal yang digunakan untuk menindas rakyat. Namun dengan gampangnya mereka membunuh karakter kami dengan memberitakannya  tak berimbang, lebih mengulas sisi anarkisnya tanpa mengulas lebih lanjut tentang tuntutan aksinya.

Sekarang, kami para mahasiswa merasa benar-benar terdzalimi oleh kekuasaan, dengan gampangnya mereka menindas rakyat, dengan gampangnya mereka membunuh saudara kami, dengan gampangnya mereka membunuh karakter kami. tak ingatkah mereka pada saat mereka mahasiswa dulu? ada yang dikenal menggulingkan soekarno di tahun 66, ada pula yang ikut menggerakkan reformasi.

aku tak tahu dimana semangat nasionalisme mereka sekarang. yang jelas……

KAMI MAHASISWA INDONESIA BERSUMPAH :

1. BERBAHASA SATU, BAHASA TANPA KEBOHONGAN!

2. BERBANGSA SATU, BANGSA YANG GANDRUNG AKAN KEADILAN!

3. BERTANAH AIR SATU, TANAH AIR TANPA PENINDASAN!!

HIDUP MAHASISWA!

HIDUP RAKYAT!

Posted by syafiq at 19:15:21 | Permalink | No Comments »