Betapa Culunnya Mahasiswa Sekarang
ospek saat itu benar-benar aku hayati dan aku usahakan jangan sampai satu hal pun terlewatkan dari konsentrasi saya. beberapa hari setelah ospek aku mulai akrab dengan beberapa senior yang katanya aktif diorganisasi. dari mereka aku dapatkan banyak informasu tentang gerakan mahasiswa. ada yang gerakannya radikal, ada yang lebih menonjolkan image,dan ada juga yang alurnya gak jelas, setelah beberapa hari aku pikirkan akhirnya aku putuskan untuk terlibat dalam gerakan mahasiswa yang radikal dan progressif, yaitu HMI yang sebenarnya yang sering dikenal dengan sebutan HMI DIPO. akupun mulai intens di dunia baruku ini dengan diselingi kegiatan jurnalistik yang aku ikuti lewat sebuah UKM jurnalistik tingkat universitas.
setelah lewat satu semester aku merasakan sesuatu yang berbeda dari diriku ketimbang rekan-rekanku yang lain. aku merasa asing jika berada di tengah kalanganku sendiri. mereka bilang kalo aku ini aktifis. tapi aku tidak merasakan itu. aku masih sama seperti mereka, seorang mahasiswa biologi yang kerjaannya kuliah-praktikum-dan laporan. semakin lama semakin aku merasakan perbedaannya. entah di sebelah mana. setelah berulang kali aku pikirkan aku menemukan perbedaannya. suatu tempat yang aku namai otak mungkin disitu letaknya. setelah aku rasakan betapa berbedanya aku dengan mereka. aku benar-benar mengerti kalo mereka tak berpikir seperti aku.
beberapa mahasiswa diunsoed yang seangkatanku (2007) tidak terlalu tanggap dengan kenyataan dan mempunyai pola pikir yang maaf terbelakang. ini terlihat ketika ada seorang mahasiswa yang berpikir bahwa ” aksi mahasiswa menentang kebijakan itu tidak ada gunanya dan tidak berimbas apa-apa “. coba kita tengok apa kata bapak tukang becak ” demo-demo itu gak ada gunanya mas”. apa yang terlihat janggal adalah pola pikir seorang mahasiswa sama dengan pola pikir seorang tukang becak. naudzubillahimin dzalik.
kalo kenyataannya seperti itu, lalu apa gunanya mereka kuliah?jelas lebih tidak berguna!. bukankah esensi dari kuliah adalah pendewasaan diri?bukankah gak ada gunanya kalo kelakuan seorang sarjana sama seperti anak SMA?
dan akhirnya aku menyimpulkan bahwa asumsi dari mantan presiden BEM FISIP UNSOED tahun 1998 terbukti benar!.
aku tawarkan bagi pembaca yang tidak mau dibilang culun untuk segera berpikir, dan sarananya adalah ORGANISASI!.
kalo tetap tidak peduli dengan bangsa dan negara, aku bilang “dasar mahasiswa culun!”